Said Didu Pertanyakan Motif Dugaan Penyadapan Prabowo

By Admin


Said Didu | Dok. X

nusakini.com, Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu menyoroti kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (4/11/2026). Ia mengaitkan penyidikan kasus ini dengan sebuah rekaman pidato lawas mantan Presiden Joko Widodo.

Melalui akun media sosialnya, Said menduga aktivitas penyadapan tersebut melayani kepentingan kelompok politik tertentu. Ia menyebut kelompok misterius ini dengan istilah Geng SOP yang merupakan singkatan dari Solo, Oligarki, dan Parcok.

Dugaan ini muncul tak lama setelah Bareskrim Polri mengumumkan status tersangka bagi mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pengumuman dari kepolisian tersebut dilakukan secara resmi pada Selasa (3/11/2026).

Said turut mempertanyakan pihak yang menjadi pemesan serta penerima data dari hasil penyadapan ilegal tersebut. "Karena yang disadap termasuk Presiden Prabowo, pejabat negara... maka dapat dipastikan bukan tugas dari Presiden dan hasilnya tidak diserahkan ke Presiden," ujar Said.

Sasaran penyadapan ini diduga mencakup sejumlah figur penting seperti menteri, pemimpin partai, hingga pengusaha. Oleh karena itu, Said merasa publik perlu mendapatkan kejelasan mengenai aliran data dari operasi senyap ini.

Pidato yang diunggah oleh Said merupakan pernyataan Joko Widodo di Bogor pada Sabtu (16/9/2023). Saat itu, mantan presiden tersebut menyatakan memiliki laporan intelijen dari Polri, TNI, hingga BIN terkait kondisi partai politik.

"Dalamnya partai seperti apa saya tahu, partai-partai seperti apa ingin mereka menuju ke mana saya juga ngerti informasi yang saya terima komplit," kata Jokowi dalam pidato tersebut. Namun, polisi belum merilis temuan hukum yang mengaitkan pidato itu dengan kasus yang sedang berjalan.

Pihak kepolisian masih berupaya menelusuri motif utama di balik dugaan pelanggaran kewenangan ini. Hingga kini, belum ada pihak penerima data penyadapan yang diungkap oleh penyidik ke hadapan publik. (*)